By bogaano@blogspot.com, Senin, 10 Juli 2017
|
Cadas Pangeran adalah nama jalan penghubung antara Kabupaten Sumedang menuju Bandung,tepatnya dari dan akan ke kawasan pendidikan kampus IPDN,IKOPIN,ITB,UNPAD
perbatasan antara Bandung dan Sumedang,Jalan Cadas pangeran adalah akses vital penghubung dari Sumedang,Majalengka,dan Cirebon menuju Bandung dan sebaliknya.
Rute ruas jalan cadas Pangeran yang melewati atara tebing terjal,dan tikungan jalan yang khas
bagi para pengguna jalan yang sudah terbiasa hafal melalui jalur ini,untuk pemula yang baru melewati jalur Cadas Pangeran ini harus berhati-hati dan konsentrasi karena banyak tikungan curam,sempit dan banyak mobil angkutan berat bus AKAP,dan truk-truk besar ekpedisi barang yang akan ke Bandung rute jalur selatan dari Cirebon,Jawa via jalan Cadas Pangeran Sumedang.
Konon menurut orang tua dulu saat pembangunan Jalan Cadas Pangeran menelan banyak korban jiwa pekerja paksa/rodi warga pribumi saat penjajahan kolonial Belanda,dalam misi pembangunan rute jalan POS Anyer-Panarukan,jalan Cadas pangeran dibangun di tepi tebing terjal dulu pembangunan jalan tanpa bantuan alat berat dan lainnya dalam penggalian atau pembukaan rute jalan,sehingga pekerjaan molor banyak menelan banyak korban jiwa warga pribumi yang dipekerjakan paksa oleh kolonial Belanda pimpinan pemerakarsa Gubernur Jendral Herman Willem Daendles 1809.
Atas tindakan kesewenang-wenangan Kolonial Belanda, dan banyak korban jiwa khususnya warga Sumedang sebagai orang pribumi,mengusik keprihatinan Regent/Bupati Sumedang saat itu Pangeran Kusumahdinata IX (1791-1828),warga Sumedang biasa menyebutnya Kanjeng Pangeran Kornel,
Singkat cerita kata orang tua saya Pangeran Kornel sebelum bepergian terbiasa Shalat Dhuha dan memohon keselamatan diri dan rakyatnya,Pangeran kornel meninjau langsung ke lokasi kerja rodi cadas pangeran yang kebetulan sedang ada Gubernur Jendral kolonial Belanda konon H.W.Daendles sedang dilokasi pembangunan jalan Cadas Pangeran,sang Jendral senang dikira ada sambutan dari pihak Regent/Bupati Pribumi "Sumedang" ,sang jendral Belanda datang dan menghampiri akan berjabat tangan sebuah simbol sambutan antar penguasa Kolonial dan Pribumi.
Akan tetapi apa yang didapat uluran tangan pemimpin Belanda untuk bersalaman tersebut disambut dengan uluran tangan kiri Pangeran Kornel yang tangan kanannya siap menguhunus Keris Pusaka Naga Sasra (masih tersimpan apik di Museum Sumedang),sang Jendral kaget dan merasa tidak bersalah,pada sang Bupati Pribumi,Pangeran Kornel saat berkata pada Sang Jendral Belanda suasana yang tadinya riuh jadi senyap konon Pangeran Kornel ngageum Aji Gelap Ngampar.
Jendral Belanda menjadi segan dan mau bernegosiasi dengan pihak Bupati Pribumi atas tindakannya mepekerjakan paksa/rodi warga pribumi,setelah kejadian itu Pihak Belanda sepakat pembangunan teknisnya dinbantu oleh pihak Belanda dengan dinamit dan lainnya.
Lokasi pertemuan para pembesar Belanda dengan Pangeran Sumedang hingga sekarang diabadikan dalam sebuah Patung berjabatan tangan yang unik dan penuh nilai luhur kearifan lokal.
Atas keberanian sang Bupati dalam membela rakyatnya Pangeran Sumedang mendapat penghargaan Kehormatan dari Kolonial Belanda dengan gelar Cornelis/Kolonel orang Sumedang terbiasa menyebutnya Kornel,yang diabadiakan jadi nama sebuah jalan di kota Sumedang yaitu jalan menuju Alun-Alun Sumedang dari Arah Bandung "Jalan PangKor : Jalan Pangeran Kornel "
Sumedang Kabupaten di Jawa Barat yang tiap ruas jalan utama menggunakan nama Pembesar,nama para Raja zaman Sumedang Larang : Jl.Geusan Ulun/Angkawijaya,Jl.Gajah Agung,Jl.P.kornel,Jl.P.sugih,Jl.Cut Nyak dien,Jl.Umar Wirahadikusumah dan lainnya,tidak akan ditemui Nama Jalan dengan Nama Pahlawan seperti di daerah lainn pasti ada Jalan.Sukarno-Hatta,Jl.Jend.Sudirman,Jl.Jend.Ahmad Yani dan lainnya,inilah sisi unik dari Kabupaten Sumedang.
Kearifan lokal yang masih dipertahankan hingga sekarang yang khas dari zaman dulu hingga sekarang,yang tetap dijaga dan dilestarikan turun temurun oleh warga Sumedang.
" SUMEDANG PUSEUR/PUSAT BUDAYA JAWA BARAT "